Bersyukur, Berdamai, Berproses, dan Bertumbuh: Cara Menjalani Hidup Tanpa Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Ada masa dalam hidup ketika kita merasa tertinggal.
Melihat teman sudah punya pekerjaan yang bagus, sementara kita masih mencari arah. Ada yang sudah menikah, sementara kita bahkan masih berusaha memahami diri sendiri. Ada yang terlihat sukses di media sosial, sedangkan hidup kita rasanya begitu-begitu saja.
Tanpa sadar, kita mulai bertanya kepada diri sendiri:
"Kenapa hidupku belum seperti mereka?"
Pertanyaan sederhana itu kadang berubah menjadi tekanan yang panjang. Kita merasa kurang sukses, kurang pintar, kurang kaya, kurang menarik, bahkan merasa tidak cukup baik.
Padahal, hidup bukan perlombaan yang memiliki garis finis yang sama untuk semua orang.
Ada orang yang menemukan jalannya di usia 20-an. Ada yang baru menemukannya di usia 30-an, 40-an, atau bahkan lebih. Ada yang harus jatuh berkali-kali sebelum akhirnya memahami apa yang benar-benar ia inginkan.
Karena itu, mungkin kita tidak selalu membutuhkan motivasi untuk berlari lebih cepat.
Kadang, kita hanya perlu belajar berhenti sebentar, menarik napas, lalu menjalani hidup dengan empat hal sederhana: bersyukur, berdamai, berproses, dan bertumbuh.
1. Bersyukur: Belajar Melihat Apa yang Sudah Kita Punya
Bersyukur bukan berarti kita harus menganggap hidup sudah sempurna.
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Bersyukur bukan berarti tidak boleh punya keinginan. Bukan berarti kita harus berhenti mengejar cita-cita. Dan bukan berarti kita harus menerima semua keadaan tanpa berusaha mengubahnya.
Bersyukur adalah kemampuan untuk menyadari bahwa di tengah berbagai kekurangan, masih ada hal-hal yang layak dihargai.
Kita mungkin belum punya rumah sendiri, tetapi masih memiliki tempat untuk pulang.
Kita mungkin belum memiliki banyak uang, tetapi masih bisa makan hari ini.
Kita mungkin belum mencapai pekerjaan impian, tetapi masih memiliki kesempatan untuk belajar.
Kita mungkin sedang mengalami banyak masalah, tetapi masih diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.
Hal-hal seperti ini terlihat sederhana. Justru karena sederhana, kita sering lupa menghargainya.
Kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki sampai lupa menghitung apa yang sebenarnya sudah ada.
Bersyukur bukan tentang memiliki lebih banyak, tetapi menyadari nilai dari apa yang sudah ada
Media sosial membuat hal ini semakin sulit.
Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain. Ada yang membeli mobil baru, mendapatkan pekerjaan, traveling ke tempat indah, membangun bisnis, menikah, membeli rumah, atau mencapai sesuatu yang selama ini kita impikan.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Kita melihat hasil mereka, tetapi tidak melihat prosesnya.
Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat kegagalannya.
Kita melihat senyumnya, tetapi tidak tahu berapa banyak malam yang mereka lewati sambil menangis dan meragukan diri sendiri.
Karena itu, belajar bersyukur juga berarti belajar berhenti membandingkan hidup secara berlebihan.
Bukan berarti kita tidak boleh terinspirasi dari orang lain. Boleh.
Namun, jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan sebagai alasan untuk membenci kehidupan sendiri.
2. Berdamai: Menerima Bahwa Tidak Semua Hal Bisa Kita Ubah
Setelah belajar bersyukur, kita perlu belajar berdamai.
Berdamai dengan masa lalu.
Berdamai dengan keadaan.
Berdamai dengan keputusan yang pernah kita buat.
Dan yang paling sulit, berdamai dengan diri sendiri.
Ada banyak hal yang ingin kita ubah dari masa lalu.
Mungkin pernah mengambil keputusan yang salah.
Mungkin pernah mempercayai orang yang ternyata mengecewakan.
Mungkin pernah kehilangan seseorang.
Mungkin pernah menyia-nyiakan kesempatan.
Mungkin pernah melakukan sesuatu yang sampai sekarang masih membuat kita merasa bersalah.
Sayangnya, masa lalu tidak memiliki tombol edit.
Kita tidak bisa kembali ke hari kemarin dan memperbaiki semuanya.
Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari apa yang sudah terjadi.
Menerima bukan berarti menyerah
Berdamai dengan keadaan sering dianggap sebagai tanda kelemahan.
Padahal, menerima kenyataan justru membutuhkan keberanian.
Ada hal-hal yang memang bisa kita ubah.
Ada pula hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Kita bisa mengubah cara kita bekerja, tetapi tidak selalu bisa mengontrol hasilnya.
Kita bisa memperbaiki sikap kepada seseorang, tetapi tidak bisa memaksa orang tersebut memaafkan kita.
Kita bisa menjaga hubungan, tetapi tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap tinggal.
Kita bisa berusaha mendapatkan sesuatu, tetapi tidak bisa menjamin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Di sinilah pentingnya berdamai.
Bukan untuk mengatakan, "Ya sudah, aku menyerah."
Tetapi mengatakan:
"Aku sudah melakukan yang bisa aku lakukan. Sekarang aku akan menerima apa yang tidak bisa aku kendalikan dan fokus pada hal yang masih bisa aku perbaiki."
Itu jauh lebih sehat.
3. Berproses: Tidak Semua Perubahan Terjadi dalam Semalam
Kita hidup di zaman yang menyukai sesuatu yang cepat.
Mau sukses cepat.
Mau kaya cepat.
Mau punya badan bagus cepat.
Mau mendapatkan pekerjaan cepat.
Mau bisnis langsung menghasilkan.
Bahkan kadang kita ingin sembuh dari luka emosional secepat mungkin.
Padahal, banyak hal penting dalam hidup membutuhkan waktu.
Pohon tidak tumbuh besar dalam satu malam.
Kemampuan tidak muncul hanya karena kita menonton satu video motivasi.
Keahlian tidak terbentuk hanya karena membaca satu buku.
Dan kehidupan yang lebih baik tidak tercipta hanya karena kita membuat resolusi tahun baru.
Semuanya membutuhkan proses.
Jangan meremehkan kemajuan kecil
Masalahnya, kita sering hanya menganggap sesuatu sebagai kemajuan ketika hasilnya terlihat besar.
Padahal, kemajuan kecil tetaplah kemajuan.
Hari ini kita belajar satu hal baru.
Besok kita mencoba lagi.
Hari berikutnya kita melakukan kesalahan.
Kemudian kita memperbaikinya.
Pelan-pelan, sesuatu mulai berubah.
Mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Tetapi kita tahu bahwa diri kita hari ini tidak sama dengan diri kita beberapa bulan lalu.
Itulah proses.
Misalnya, seseorang yang ingin membangun kondisi finansial yang lebih baik tidak harus langsung memiliki puluhan juta rupiah.
Ia bisa memulainya dengan belajar mencatat pengeluaran.
Kemudian mengurangi pembelian yang tidak penting.
Mulai menabung sedikit demi sedikit.
Belajar investasi.
Meningkatkan keterampilan.
Mencari sumber penghasilan tambahan.
Tidak ada satu langkah yang terlihat luar biasa.
Namun, jika dilakukan terus-menerus, langkah kecil tersebut bisa membawa seseorang ke tempat yang jauh berbeda.
Jadi, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa usaha kita tidak menghasilkan apa-apa.
Bisa jadi hasilnya memang belum terlihat.
4. Bertumbuh: Menjadi Versi Diri yang Lebih Baik
Tujuan hidup bukan menjadi manusia yang sempurna.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Kita semua punya kekurangan, kebiasaan buruk, ketakutan, kesalahan, dan sisi diri yang masih perlu diperbaiki.
Yang lebih penting adalah terus bertumbuh.
Hari ini mungkin kita belum sebijak yang kita inginkan.
Tidak masalah.
Belajar.
Hari ini mungkin kita belum sepandai orang lain.
Tidak masalah.
Berlatih.
Hari ini mungkin kita masih mudah emosi.
Tidak masalah.
Belajar mengendalikan diri.
Hari ini mungkin kita belum tahu mau menjadi apa.
Tidak masalah.
Coba berbagai hal sampai menemukan sesuatu yang cocok.
Pertumbuhan tidak selalu terlihat seperti pencapaian besar.
Kadang pertumbuhan terlihat seperti kemampuan untuk mengatakan "tidak" pada sesuatu yang dulu selalu kita ikuti.
Kadang pertumbuhan adalah memilih diam daripada membalas perkataan yang menyakitkan.
Kadang pertumbuhan adalah berani meminta maaf.
Kadang pertumbuhan adalah meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.
Kadang pertumbuhan adalah berani memulai lagi setelah mengalami kegagalan.
Dan kadang, pertumbuhan hanya sesederhana belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.
Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Ada satu hal yang sering kita lakukan tanpa sadar: menjadi orang paling keras terhadap diri sendiri.
Ketika orang lain gagal, kita bisa mengatakan:
"Tidak apa-apa. Namanya juga proses."
Tetapi ketika kita sendiri gagal, kita berkata:
"Aku memang bodoh."
Ketika teman melakukan kesalahan, kita bisa memahami keadaannya.
Tetapi ketika kita melakukan kesalahan, kita menghukum diri sendiri berhari-hari.
Mengapa?
Bukankah kita juga manusia?
Kita boleh kecewa kepada diri sendiri. Kita boleh mengakui kesalahan. Kita bahkan perlu mengevaluasi diri.
Namun, evaluasi berbeda dengan menyiksa diri secara mental.
Mengakui kesalahan berarti:
"Aku salah. Aku akan belajar agar tidak mengulanginya."
Menyalahkan diri tanpa akhir berarti:
"Aku salah, berarti aku manusia yang buruk dan tidak akan pernah berubah."
Keduanya sangat berbeda.
Yang pertama membantu kita bertumbuh.
Yang kedua justru membuat kita terjebak.
Hidup Tidak Harus Selalu Terlihat Hebat
Ada fase kehidupan ketika kita hanya perlu bertahan.
Tidak perlu selalu produktif.
Tidak perlu selalu terlihat sukses.
Tidak perlu selalu memiliki pencapaian untuk diceritakan kepada orang lain.
Kadang kita hanya perlu menjalani hari dengan sebaik mungkin.
Bangun.
Bekerja.
Belajar.
Makan.
Beristirahat.
Menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi.
Kemudian mencoba lagi besok.
Kehidupan yang sederhana bukan berarti kehidupan yang gagal.
Kita terlalu sering menganggap hidup harus terlihat luar biasa agar layak disebut berhasil.
Padahal, hidup yang tenang, cukup, dan bermakna juga merupakan sebuah keberhasilan.
Tidak semua kebahagiaan harus dipamerkan.
Tidak semua pencapaian harus diumumkan.
Tidak semua perjalanan harus diketahui orang lain.
Ada hal-hal yang justru menjadi lebih indah ketika cukup kita dan Tuhan yang mengetahuinya.
Empat Kata yang Bisa Menjadi Pengingat
Kalau dirangkum, bersyukur, berdamai, berproses, dan bertumbuh sebenarnya adalah empat tahapan sederhana dalam menjalani kehidupan.
Bersyukur mengajarkan kita untuk melihat apa yang sudah dimiliki.
Berdamai mengajarkan kita untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kita ubah.
Berproses mengajarkan kita bahwa perubahan membutuhkan waktu.
Bertumbuh mengajarkan kita untuk terus menjadi lebih baik.
Keempatnya saling berhubungan.
Kita bersyukur agar tidak terus-menerus merasa kekurangan.
Kita berdamai agar tidak terus hidup di masa lalu.
Kita berproses agar tidak menyerah hanya karena hasil belum terlihat.
Dan kita bertumbuh agar kehidupan kita terus bergerak ke arah yang lebih baik.
Tidak harus cepat.
Yang penting, jangan berhenti.
Jika Hari Ini Hidupmu Terasa Berat
Kalau sekarang kamu sedang berada di fase kehidupan yang membingungkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu gagal.
Mungkin kamu hanya sedang berada di bagian cerita yang belum selesai.
Kalau kamu belum mencapai apa yang kamu inginkan, bukan berarti kamu tidak akan pernah mencapainya.
Kalau kamu pernah gagal, bukan berarti seluruh hidupmu adalah kegagalan.
Kalau seseorang pergi, bukan berarti kamu tidak layak dicintai.
Kalau rencanamu berantakan, bukan berarti masa depanmu juga akan berantakan.
Dan kalau sekarang kamu masih berjalan pelan, tidak masalah.
Tidak semua orang harus berlari.
Ada orang yang memang harus berjalan lebih pelan karena sedang membawa banyak hal yang tidak diketahui orang lain.
Jadi, tarik napas.
Lihat kembali perjalananmu.
Hargai hal-hal kecil yang sudah berhasil kamu lewati.
Maafkan dirimu atas kesalahan yang sudah terjadi.
Ambil pelajaran dari masa lalu.
Kemudian lanjutkan perjalanan.
Pada akhirnya, kita tidak harus menjadi orang lain
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk ingin menjadi seperti orang lain.
Ingin punya kehidupan seperti mereka.
Ingin sukses seperti mereka.
Ingin memiliki pencapaian seperti mereka.
Padahal, mungkin yang sebenarnya kita butuhkan bukan menjadi seperti orang lain, melainkan menjadi versi diri kita sendiri yang lebih baik.
Versi yang lebih tenang.
Lebih bijaksana.
Lebih kuat.
Lebih mandiri.
Lebih bersyukur.
Dan lebih mampu menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Bersyukur dengan apa yang ada.
Berdamai dengan apa yang telah terjadi.
Berproses dengan apa yang sedang dijalani.
Dan bertumbuh menjadi seseorang yang lebih baik dari kemarin.
Tidak perlu terburu-buru.
Kita punya waktu.
Dan selama masih ada hari esok, selalu ada kesempatan untuk mencoba lagi.





Post a Comment for "Bersyukur, Berdamai, Berproses, dan Bertumbuh: Cara Menjalani Hidup Tanpa Terlalu Keras pada Diri Sendiri"
Silakan Berkomentar dengan topik yang sesuai dan sopan. terimakasih